Selamat malam semua.
Saya mau sharing cerita saya, yang saya ikutkan dan menjadi juara satu lomba menulis kisah inspiratif Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

Semoga dapat bermanfaat.

Langkah Hati: Meniti Jalan Berkabut, di bawah Lentera Illahi

“…melalui Bidikmisi, bantuan pendidikan siap diberi

Melalui bidikmisi, kendala ekonomi tiada lagi

Melalui bidikmisi, mari kita tingkatkan prestasi

Melalui bidikmisi, jadilah kita sarjana mandiri

Ayo bangkitlah bersama

Menuju asa menggapai cita cita

Ayo bangkitlah kita semua

Menuju generasi emas indonesia

 

Makna Perjuangan

Mars itu terus menggema dikepalaku. Sebuah lagu yang berisi tujuan mulia untuk mencerdaskan bangsa. Menyanyaikan mars ini, membuatku semakin bangga mengenakan almamater kuningku saat ini, yang ku dapat melalui banyak perjuangan. Tentunya tak mudah, namun seperti yang kau lihat kawan, ketika aku menulis kisah ini, aku telah mengenakan jas kebesaran yang tak semua orang bisa memakainya dalam hidup ini.

Esensi hidup adalah perjuangan. Tentu kita sepakat, bukan? Bahkan, eksistensi manusia itu sendiri adalah perjuangan. Adakah yang menyanggah bahwa kita adalah pejuang hebat yang merupakan hasil seleksi ketat dari ratusan bahkan ribuan kecebong mikroskopik yang berlomba-lomba menuju dan menembus sebuah dinding pertahanan yang mengantarkan kita pada kehidupan?

Oh ya, pernah dengar kalau naskah seorang J.K. Rowling ditolak oleh 12 penerbit? Pernah tahu bahwa Thomas Alfa Edison mengalami 9.955 kegagalan sebelum berhasil menemukan bola lampu? Seandainya J.K. Rowling menyerah dan berhenti menawarkan naskahnya kepada penerbit ke 13, mungkin kita tak akan pernah tahu atau bahkan membayangkan kalau dibalik peron 9 ¾ Stasiun King’s Cross, ada sebuah kereta ekspress yang akan menghantarkan kita menuju dunia sihir. Kalau saja Edison menyerah pada percobaan ke 9.956, mungkin saja hingga saat ini kita masih menggunakan lilin dan lampu semprong untuk penerangan. Kedua kisah ini mengajarkan kita betapa dengan perjuangan dan tekad kuat, cita-cita kita pasti bisa tercapai.

 

Aku, Unnes dan Bidikmisi

Wonosobo, Mei 2015. Berbicara mengenai perjuangan, satu setengah tahun yang lalu aku benar-benar merasakannya. Tepatnya, beberapa bulan lalu setelah menyelesaikan pendidikan di bangku sekolah, tiba bagiku untuk merencanakan matang-matang pendidikan tinggi yang ingin aku tempuh. Setelah mengalami kekecewaan karena mengetahui besar kemungkinan STAN (sekarang Politeknik Keuangan Negara) tidak membuka pendaftaran, aku memutuskan untuk mencari Perguruan Tinggi lain. Selain memikirkan Perguruan Tinggi, aku juga harus memikirkan bagaimana dengan biaya kuliahku nanti. Guru SMK ku terus memotivasi untuk mengambil bantuan pendidikan Bidikmisi. Ya, program bantuan pendidikan terbesar di Indonesia ini membiayai pendidikan termasuk biaya living cost  selama 4 tahun untuk jenjang pendidikan S1.

Dengan dorongan dari orang tua, guru dan teman, akhirnya aku memutuskan untuk mendaftar SNMPTN sekaligus Bidikmisi. Aku ingat betul ketika itu, Hari Sabtu, 9 Mei 2015 adalah hari diumumkannya SNMPTN. Server yang overload adalah tanda bahwa kami beratus-ribu siswa menaruh harapan yang sama untuk bisa diterima di Perguruan Tinggi tujuan. Program studi pilihan pertamaku adalah Akuntansi Unnes. Dengan bermodal jurusan yang linear dan nilai rata-rata akhir 9,2 aku terlalu dan bahkan terlampau percaya diri untuk dapat masuk ke kampus konservasi ini. Aku telah berusaha dengan keras, mungkin terlampau keras, hingga ibadahku pun  pamrih demi lulus SNMPTN. Memaksa Allah mengabulkan keinginanku.

Namun nyatanya, i’m failed. Ya aku gagal, aku marah pada Allah, kurang apa ibadahku? Tak cukupkah sujud dan doaku? Lantas bagaimana dengan masa depanku? Aku hanya bisa bersedih dan termenung saja. Seiring berjalannya waktu, aku berusaha bangkit, memaknai kegagalan ini sebagai pembelajaran dan hal positif, aku berusaha berdiri dan melihat segala sesuatunya dengan lebih luas. Aku percaya Allah memiliki rencana yang lebih baik dari skenario ciptaanku.

Setelah kejadian itu aku memilih berfokus pada SBMPTN. Jumat, 29 Mei 2015 adalah saat aku menentukan pilihan dan masa depanku melalui pilihan program studi SBMPTN. Aku tak ingin mengulang kegagalan yang sama seperti SNMPTN. Jujur, entah apa yang terlintas dipikirku kala itu, aku memilih PPKn Unnes sebagai pilihan pertamaku disusul PIPS Unnes dan PPKn UNS. Yang pasti selain memenuhi permintaan kedua orang tua, aku ingin menjadi orang yang berguna bagi bangsa, negara, dan agamaku salah satunya dengan menjadi guru.

Semarang, Juni 2015. Belajar, belajar dan belajar itu yang selalu kulakukan sejak kegagalanku pada SNMPTN. Dengan bekal dan amunisi yang cukup aku bergegas pergi menaiki shuttle menuju Kota Semarang. Hingga akhirnya shuttle yang membawaku dari kota kecil nan dingin telah tiba, didepan sebuah rumah sederhana. Matahari belum garang menumpahkan sinar teriknya, setelah sampai aku disambut oleh peluk hangat kak Radit. Inilah kali pertama aku menginjakkan kaki di Semarang, pusat pemerintahan Jawa Tengah. Dengan dibimbing oleh sepupuku ini, aku yang masih lelah menempuh perjalanan selama empat jam, bergegas menuju ke sebuah kamar. Terlihat jelas dari sebuah jendela, gedung – gedung pencakar langit di pusat kota, menyadarkanku bahwa aku pasti akan segera menjadi bagian dari kota lumpia ini, pikirku kala itu.

9 Juni 2015, aku bisa mengerjakan soal SBMPTN dengan baik. Aku yakin bahwa kali ini usahaku takkan sia-sia. Aku terus berdoa dan berdoa.

Dan Allah berfirman : “ Berdoalah (langsung) kepada-Ku,

Niscaya akan Kukabulkan”

(QS. Al Mu’min : 60)

Membaca ayat ini, hatiku semakin tenang mengenai hasil SBMPTN. Hingga akhirnya tanggal 9 Juli pun tiba, hari dimana penentuan keberlanjutan pendidikan dan masa depanku. Tak tahu dengan apalagi aku bisa kuliah tanpa adanya Bidikmisi, pikirku saat itu. Namun tetakutanku tak jadi nyata, Alhamdulillah…aku dinyatakan lolos SBMPTN. Beberapa hari, tak lama setelah pengumuman SBMPTN, aku juga dinyatakan diterima sebagai mahasiswa Bidikmisi Unnes. Terima Kasih Ya Allah karena nikmat-Mu yang berlipat ini. Allah mengabulkan doa saya dengan penundaan, dimana saya harus lebih bersabar dan bertawakal.

Setelah masa orientasi mahasiswa berlalu, aku benar-benar merasa telah menjadi mahasiswa Unnes. Kini waktu perkuliahan kuisi dengan berbagai aktivitas mulai dari kuliah beneran (tatap muka) hingga kuliah online. Selain kuliah, aku juga cukup aktif membantu penelitian dosen walau hanya sebatas dokumentasi ataupun menyebar angket.  Setelah menjalani perkuliahan selama setahun ini, alhamdulillah IP ku tergolong cumlaude dan membanggakan.

Sebagai mahasiswa dalam hal akademik, IP saja tidaklah cukup. Untuk saat ini, aku memilih tidak terlalu aktif di organisasi karena ingin mengikuti berbagai perlombaan yang aku harap bisa bermanfaat dan mampu mengembangkan potensi diri. Alhamdulillah selama dua bulan ini, aku berhasil mendapatkan dua kejuaraan. Bulan November lalu aku dan dua temanku sesama mahasiswa Bidikmisi mendapatkan kesempatan mempersembahkan piala juara III dalam lomba Dialog Interaktif di Universitas Negeri Malang. Diawal Desember, aku berhasil menjadi harapan II lomba artikel Bigdata Konferensi Bigdata Indonesia 2016.

Satu hal yang pasti bahwa dibutuhkan keberanian untuk mendorong diri anda ke tempat-tempat yang belum pernah anda kunjungi, untuk menguji batas kemampuan anda, untuk  menerobos hambatan-hambatan. Dan akan tiba waktunya ketika risiko untuk tetap tinggal didalam kuncupnya itu lebih menyakitkan daripada risiko untuk berkembang.

Di dunia ini, tidak ada jaminan dari sebuah keberhasilan, namun tidak mencobanya adalah jaminan kegagalan karena dalam setiap kisah sukses, Anda akan menemukan seseorang yang telah mengambil keputusan dengan berani. Ingat, kita takkan tahu apa yang tidak dapat kita lakukan sampai kita mencobanya. Satu-satunya perbedaan antara pemenang dan pecundang adalah bahwa pemenang itu mengambil tindakan dan mau mencoba.

Itulah kisah perjuanganku untuk masuk Unnes. Pesanku mari terus berjuang, jangan mudah menyerah, tetap bersyukur, dan tersulah berdoa, karena dari doa itulah segala sesuatu akan dimudahkan.

Salam perjuangan, sobat!

404 Not Found.404 Not Found. 404 Not Found.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *